tidak semua yang saya tulis adalah apa yang saya rasakan

Senin, 11 Februari 2013

tanpamu

aku terbangun seperti biasa. menatap handphone beberapa lama melirik ke arah jam, menatap langit-;angit kamar yang sama. letak lemari, meja belajar, dan rak buku juga masih sama. tak ada yang berbeda disini, aku masih bernafas, jatungku masih berdetak, dan denyut nadiku masih berkerja dengan normal. memang, semua terlihat bergerak dan mengalir seperti biasa tapi, apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang dirasakan oleh hati? :)
mataku berkunang-kunang, pagi tadi memang sangat dingin. aku menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam disana. dan, tetap saja aku tak menemukan kehangatan, tetap mengigil- aku sendirian. dengan kenangan yang masih menempel di sudut-sudut otak, seakan membekukan kinerja hati. aku berharap semua hanya mimpi, dan ada seseorang secara sukarela membangunkanku atau menamparku wajahku sangat keras , sungguh aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering ku kejar. sekali lagi, aku masih sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak ingin ku ingat lagi.
sudah tahun baru, tahun yang baru, bulan yang baru, hari yang baru, harapan baru, mimpi baru, cita-cita yangbaru, juga kadang tak ada yang baru, aku hanya ingin kau tau, bahwa semua yang baru tak menjamin kebahagiaan. dan semua yang masa lalu tak semua menghasilkan air mata. aku begitu yakin pada hal itu, sampai pada akhirnya aku tahu rasanya perpisahan, sampai akhirnya aku tahu rasanya melapskan diri dari hal yang sebenarnya tak pernah ingin ku tinggalkan. aku semakin tahu, masa lalu setidaknya selalu menjadi sebab. kamu, yang dulu kumiliki tak bisa ku genggam dengan jemari.
kita berpisah tanpa alasan yang jelas, tanpa diskusi dan interupsi. iya, berpisah begitu saja. seakan-akan semua adalah hal sepele. bisa begitu mudah di sentil dengan satu hentakan kecil, sangat mudah, sampai aku tak benar-benar mengerti apakah kita telah benar-benar berpisah ? atau dulu, kita tak punya ketertarikan apa-apa? hanya saja aku dan kamu senang mendengar rasa yang sama. cinta yang dulu kita bela begitu manis berbisik......lirih...dingin...dan mempesona segala yang semu menggoda aku dan kamu.
kemudian menyatulah kita, dalam rasa (yang katanya) cinta.
aku mulai berani melewati banyak hal denganmu, kita habisakan waktu dengan langkah yang sama, dengan denyut yang berbeda dan dengan irama yang sama. tanpa cela, tanpa cacat sepurna dan aku bahagia, bahagia? benarkah aku dan kamu pernah merasakan bahagia? jika iya mengapa kita memilih perpisahan sebagai jalan? jika bahagia adalah jawaban, mengapa aku dan kamu masih sering bertanya-tanya ? pada Tuhan, pada manusia lainnya, pada hati kita sendiri, kenapa harus kau mengubah mimpi menjadi api ? mengapa kau ubah pelangi menjadi bui? mengapa kau harus ciptakan luka? jika kau selama ini merasa telah sampai pada puncak bahagia?
kegelisahanku meningkat, ketika aku memikirkanmu, ketika aku memikirkan pola makanmu, juga kesehatanmu, aku masih mengkhawtirkanmu, masih diam-diam mencari kabarmu, dan aku masih merasa sakit jika tahu kau sudah ada yang lain, yang mengisi kekosongan hatimu. seharusnya, aku tak harus merasa seperti itu, karena kau masa lalu, karena kita tak ada ikatan apa-apa lagi. benar, akulah yang bodoh.
yang memutuskan diri untuk segera berhenti, aku masih berjalan, terus berjalan, dengan penutup mata yang tak ingin ku buka. semuanya gelap. tanpamu.......kosong.
ternyata, hari berlalu sangat cepat. salahku yang terlalu perasa, salahku yang mengartikan segalanya dengan sangat berani. ku pikir dengan ikuti peraturanku semua akan semakin sempurna, lagi dan lagi aku salah, dan kamu memilih untuk pergi, ini salahku, karena tak mengunci langkahmu ketika ingin menjauh.
setelah perpisahan itu, hari-hariku masih sama. aku masih mengerjakan rutinitasku. dan aku mulai berusaha mencari penggantimu mereka berlalu lalang datang dan pergi, ada diam yang berlama-lama, ada yang ingin hanya singah, semua bertotasi, berpindah dan berputar, namun tak ada lagi yang sama. kali ini semua berbeda, tak ada kamu yang dulu, tak ada kita yang dulu, ya, semua kenangan memang berasal dari  masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak ke masa depan,
hidupku tak lagi sama, dan aku masih bejuang melupakan sosokmu yang tak lagi terengkuh oleh pelukan. padahal aku masih jalani hari yang sama, aku masih menjadi diriku, dan jiwa masih lekat dengan tubuhku, tapi masih ada yang kurang dan berbeda, kesunyian ini bernama.........tanpamu.
jika jemari di takdirkan untuk menghapus air mata, mengapa kali ini aku menghapus air mataku sendiri ? dimanakah jemarimu saat kau tak bisa menghapuskan air mataku ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman