tidak semua yang saya tulis adalah apa yang saya rasakan
Rabu, 24 Oktober 2012
Rabu, 10 Oktober 2012
“Ketika kau terlelap, itu adalah waktu yang tepat untuk memberi ciumanku yang telat.”
Tempatmu berbaring sekarang adalah sebuah Dipan yang ‘ku buat dengan susah payah dengan berbahan papan yang ‘ku ambil dari pohon besar bernama Rindu. Kau terlarut dalam lamunan ditidurmu, semilir angin yang tiada lain adalah aku, mendendangkan hasrat berselera ketika helai demi helai rambutmu ‘ku belai mesra.
Jauh diluar lamunanku, aku memikirkan cara untuk bagaimana kita bisa bersatu. Karena tiap detik yang berjumlah satu, aku terhisap dan tersapu dari hanya dua sampai tida detik yang ‘ku punya oleh hembusan nafasmu. Tidak hanya itu, aku hanyalah sebuah partikel kecil dari bagian tubuh dan hidupmu yang sungguh tak kuasa menyelimutimu dari aku yang dingin atas perintah Sang Dirgantara untuk melakukannya. Dilema ‘ku rasa. Satu tahun berlalu tidak terasa dengan sebongkah asa yang hilang entah kemana.
“Kepada setiap detik yang berjumlah satu, aku bertanya, soal sudah berapa banyak Ia yang ‘ku buang untuk mencintaimu.”
Padamu, Nona. Cintaku ini seperti pelana kuda; yang sesaat turun ketika Ia tak ‘ku jaga, dan seketika naik saat aku telah pandai mengejanya. C.I.N.T.A. Jika belati biru itu tak mampu menusuk rongga dimana seharusnya cintaku berada disana, akan ku asah sebilah rindu yang tersimpan dalam bejana yang tiada lain adalah batinku. Akan ‘ku hujam kau dengan syahdu. Akan ‘ku rajam kau dengan rindu. Sebab tanpamu, hati ini memilu; seperti palu yang layu.
Aku mencintaimu; seperti jam yang terus berjalan sekalipun Ia punya alasan untuk enggan berputar.”
Dalam kesungguhan, sebenarnya aku tidak punya banyak waktu untuk menafsirkan cinta yang sampai saat ini masih kau anggap tabu. Karena aku mencintaimu dengan caraku. Mencintaimu dengan tidak menunda waktu. Jika sebuah es saja bisa mencair hanya dengan ku taruh di atas telapak tanganku, lalu kenapa kau yang ku genggam tangannya sembari ku salurkan kehangatan cinta tidak?
Aku punya banyak alasan untuk menjelaskan kenapa aku berjuang mati-matian agar namaku terselip ke dalam sela-sela hatimu. Tapi bagiku, tulisan, bahkan lisan pun tak cukup untukku membuktikan seberapa kuat tekadku untuk mencapai tujuanku. Mungkin hanya dengan bertarung, tidak dengan melawan waktu, tetapi berjalan beriringan dengan waktu yang menurutku Ialah penentu hidup dan matinya cintamu ― padaku.
“Suatu saat nanti, kamu akan tau, siapa yang menyayangimu tanpa menghitung waktu.”
Aku, berdiri pada pijakanku yang tak bertepi. Aku bukan mengharapkanmu kembali dan memelukku lagi. Beberapa suara memang terdengar sedang mengatakan itu, tapi dalam kesungguhan, bukan aku yang menyuarakannya. Kamu selalu bertanya tentang mengapa aku mempersilakanmu pergi, tentang apakah aku sudah tidak memperdulikanmu lagi, dan tentang mengapa aku tidak menagih sebuah janji. Ketika aku mempersilakanmu pergi, hanya satu hal yang terpikir olehku. Betapa bahagianya kamu nanti, setelah kamu merasakan penyesalan yang mendalam, lalu mempelajari, dan memahaminya. Agar suatu saat nanti, jika kau dipertemukan dengan hal yang sama, kamu tidak lagi mengulanginya. Ini sungguh menyimpang dari kenyataan, tentang kepedulianku terhadapmu yang kau anggap adalah ketidakpedulianku kepadamu. Pernahkah terbayang olehmu, soal sudah berapa banyak waktu yang ku buang untuk mencintaimu disaat aku tidak ingin lagi menghitungnya? Pertanyaan terakhirmu sungguh menggelitik, aku tidak ingin menjawabnya. Janjiku yang mana yang baru aku tepati setelah mendapat tagihan darimu? Sudahlah, nikmati saja ketiadaanku. Ini keputusanmu.
“Saat ini mungkin tidak. Tapi nanti, tentang seringnya aku memelukmu; dulu, akan dengan tiba-tiba menghantuimu. Dan kerinduanmu terhadapku, bermula dari situ.”
“Aku hanyalah penggalan cerita yang belum terisi penuh oleh sajak manismu.”
Dengannya,aku menelusuri candikala yang perlahan hilang tak tersisa. Aku menyeringai,seakan tiada dirinya yang sedang kucinta digenggamanku. “Benarkah yang ku lakukan? Aku malu.” Kataku,membisu. Tatkala bisikan senyap menyelinap masuk ke’dalam’nya,akupun (langsung) tersipu tiada malu. “Apa ini? Terjadi lagi?” Kataku.
Aku menatap ke arah matanya tanpa sedikitpun rongga. Anggap itu adalah luapan rinduku atas ketiadaannya,dulu. Tanpa sedikitpun menoleh,aku seakan memegang kendali akan situasi saat itu. Seolah yang dulu (pernah) terhenti kini terajut kembali.
“Perlu kau tau. Aku aku akan tetap menunggu kehadiranmu untuk nanti kau tinggalkanku lagi.”
Aku hampir lupa apa yang pernah kita lakukan,bayangan wajahmu selalu menutupi apa yang seharusnya jadi inspirasiku. .. Bahkan sesering mungkin aku coba mengingatnya. Kau begitu memesona,sampai-sampai kenangan indah itu-pun buyar seketika. Tidak hanya itu; suaramu yang dulu pernah mengucap “Aku juga menyayangimu.”―pun mengingatkanku .. Dan juga menutupi apa yang seharusnya jadi inspirasiku. Aku mengingat segalanya tentangmu; yang membuat hilangnya inspirasiku. Aku menggabungkannya menjadi sosokmu yang utuh.. Aku membayangkan wajahmu yang memesona beserta bibir tipismu sembari mengucap “Aku juga menyayangimu,sampai kapanpun.” Walaupun aku tak tau apa yang sebenarnya,tapi itulah yang ku rasa. Sebuah inspirasi yang pernah hilang dan aku yakini akan kembali lagi.
Aku mencintaimu dengan caraku: memenjarakan cinta tanpa kau tau.
Ketika kaki ini tak mampu lagi bersandar pada tepi; yang orang bilang adalah ragu, jemari-jemari renta menggetarkan sebuah hasrat bernama rindu. Mereka berkelahi dengan waktu dan juga anatomi tubuhku lainnya yang biasa ku sebut hati. Mereka seakan saling melontarkan gurindam-gurindam yang dapat merubah haluan, bahkan membatalkan perjalanan mereka ke tempat tujuan. Memerlukan sebuah nyali agar beberapa pesan didalam hati bisa tersampaikan lewat jemari-jemari renta yang sudah tak sabar untuk melakukan tugasnya.
Ketidakkuasaan, memaksaku untuk menyimpannya didalam diam. Sebuah pertanyaan yang dapat dilontarkan kepada siapa saja yang berhak melakukannya. Tapi tidak bagiku. Aku hanyalah Candala yang begitu tergesa-gesa memberi tulus cinta kepadamu yang bertahta. Keadaan ini sudah terlalu sering membuatku jera untuk melakukannya. Ya. Cinta.
Keadaan yang menyudutkanku pada ruangan gelap dimana tersimpan banyak luka, sedangkan disana hanya ada sebatang lilin yang menemaniku dengan sinar bahagianya yang sementara.
Aku mencintaimu dengan caraku. Maaf, maksudku dengan kebodohanku.
3 Cara Mempertahankan hubungan berpacaran
Membina suatu hubungan pacaran kadang sulit sekali untuk mempertahankan karena masing-masing pasti memiliki ego yang tinggi, belum lagi godaan dari luar yang banyak menghantui masing-masing pasangan. Nah … lalu bagaimana membuat suatu hubungan dengan pasangan atau pacaran menjadi berhasil dan tetap awet? Berikut tipsnya.
1. Be Yourself
Jadilah dirimu sendiri, karena hal itu wajib, sehingga kamu tidak perlu meniru orang lain hanya untuk memuaskan pasangan anda. Jadi, kamu perlu mengenal diri sendiri terlebih dulu sebelum membuat peta ke depan mengenai hubungan yang akan kamu jalani bersamanya. Terkadang apa yang anda inginkan, sebenarnya bukan yang benar-benar diinginkan. Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan jelas adalah membuat rangkuman dari inti tujuan anda sendiri dalam membangun atau mempertahankan hubungan.
Jadilah dirimu sendiri, karena hal itu wajib, sehingga kamu tidak perlu meniru orang lain hanya untuk memuaskan pasangan anda. Jadi, kamu perlu mengenal diri sendiri terlebih dulu sebelum membuat peta ke depan mengenai hubungan yang akan kamu jalani bersamanya. Terkadang apa yang anda inginkan, sebenarnya bukan yang benar-benar diinginkan. Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan jelas adalah membuat rangkuman dari inti tujuan anda sendiri dalam membangun atau mempertahankan hubungan.
2. Open Your Mind
Bukalah mata, hati dan pikiran kamu. Kamu tidak perlu berbohong kepada pasangan kamu, apalagi hanya karena hal tersebut memalukan bagi kamu, lantas kamu harus berbohong kepadanya. Katakan secara terbuka agar semuanya menjadi jelas. Jika memang ada yang tidak kamu sukai dari dirinya, jujur dan sampaikanlah dengan baik-baik, dengan begitu dia akan mengerti maksud kamu. Begitu pula sebaliknya, kamu akan mendengarkan pendapat dan saran dari pasangan kamu, karena komunikasi adalah salah satu cara membina hubungan agar tetap awet. Perlu diingat juga, meskipun sudah saling terbuka, kamu harus menghargai privasi pasangan kamu, dan sebaiknya kamu tahu apa yang perlu diketahui saja.
Bukalah mata, hati dan pikiran kamu. Kamu tidak perlu berbohong kepada pasangan kamu, apalagi hanya karena hal tersebut memalukan bagi kamu, lantas kamu harus berbohong kepadanya. Katakan secara terbuka agar semuanya menjadi jelas. Jika memang ada yang tidak kamu sukai dari dirinya, jujur dan sampaikanlah dengan baik-baik, dengan begitu dia akan mengerti maksud kamu. Begitu pula sebaliknya, kamu akan mendengarkan pendapat dan saran dari pasangan kamu, karena komunikasi adalah salah satu cara membina hubungan agar tetap awet. Perlu diingat juga, meskipun sudah saling terbuka, kamu harus menghargai privasi pasangan kamu, dan sebaiknya kamu tahu apa yang perlu diketahui saja.
3. Pay Attention
Perhatian, walau sekecil apapun, tapi pasti sangat berguna, terutama ketika dia sedang membutuhkan kamu. Jangan segan untuk memberi kejutan buat si dia, seperti misalnya, membuat makanan kesukaannya, dengan begitu pasangan kamu pasti jadi tambah care. Namun, perlu diingat perasaan cinta haruslah tulus, jadi ketika kamu pernah menolong dia, tak perlu diungkit secara berlebihan. Perhatian boleh, tapi jangan posesif, tidak perlu selalu mengawasi dia, dimana, bersama siapa, dan baru apa. Hal ini akan justru membuat si dia jadi il-feel. Jika kamu berbuat salah, tak ada ruginya kamu meminta maaf kepadanya, namanya juga manusia. Perhatian juga tidak hanya kepada si dia, jika kamu memang sudah yakin, maka kamu dapat mendekatkan diri dengan keluarga pasangan kamu. Hal ini memberikan keuntungan bagi kamu, karena kamu juga bisa mendapatkan dukungan dari mereka.
Perhatian, walau sekecil apapun, tapi pasti sangat berguna, terutama ketika dia sedang membutuhkan kamu. Jangan segan untuk memberi kejutan buat si dia, seperti misalnya, membuat makanan kesukaannya, dengan begitu pasangan kamu pasti jadi tambah care. Namun, perlu diingat perasaan cinta haruslah tulus, jadi ketika kamu pernah menolong dia, tak perlu diungkit secara berlebihan. Perhatian boleh, tapi jangan posesif, tidak perlu selalu mengawasi dia, dimana, bersama siapa, dan baru apa. Hal ini akan justru membuat si dia jadi il-feel. Jika kamu berbuat salah, tak ada ruginya kamu meminta maaf kepadanya, namanya juga manusia. Perhatian juga tidak hanya kepada si dia, jika kamu memang sudah yakin, maka kamu dapat mendekatkan diri dengan keluarga pasangan kamu. Hal ini memberikan keuntungan bagi kamu, karena kamu juga bisa mendapatkan dukungan dari mereka.
“Aku mencintaimu; seperti jam yang terus berjalan sekalipun Ia punya alasan untuk enggan berputar.”
Dalam kesungguhan, sebenarnya aku tidak punya banyak waktu untuk menafsirkan cinta yang sampai saat ini masih kau anggap tabu. Karena aku mencintaimu dengan caraku. Mencintaimu dengan tidak menunda waktu. Jika sebuah es saja bisa mencair hanya dengan ku taruh di atas telapak tanganku, lalu kenapa kau yang ku genggam tangannya sembari ku salurkan kehangatan cinta tidak?
Aku punya banyak alasan untuk menjelaskan kenapa aku berjuang mati-matian agar namaku terselip ke dalam sela-sela hatimu. Tapi bagiku, tulisan, bahkan lisan pun tak cukup untukku membuktikan seberapa kuat tekadku untuk mencapai tujuanku. Mungkin hanya dengan bertarung, tidak dengan melawan waktu, tetapi berjalan beriringan dengan waktu yang menurutku Ialah penentu hidup dan matinya cintamu ― padaku.
“Suatu saat nanti, kamu akan tau, siapa yang menyayangimu tanpa menghitung waktu.”
Aku, berdiri pada pijakanku yang tak bertepi. Aku bukan mengharapkanmu kembali dan memelukku lagi. Beberapa suara memang terdengar sedang mengatakan itu, tapi dalam kesungguhan, bukan aku yang menyuarakannya. Kamu selalu bertanya tentang mengapa aku mempersilakanmu pergi, tentang apakah aku sudah tidak memperdulikanmu lagi, dan tentang mengapa aku tidak menagih sebuah janji. Ketika aku mempersilakanmu pergi, hanya satu hal yang terpikir olehku. Betapa bahagianya kamu nanti, setelah kamu merasakan penyesalan yang mendalam, lalu mempelajari, dan memahaminya. Agar suatu saat nanti, jika kau dipertemukan dengan hal yang sama, kamu tidak lagi mengulanginya. Ini sungguh menyimpang dari kenyataan, tentang kepedulianku terhadapmu yang kau anggap adalah ketidakpedulianku kepadamu. Pernahkah terbayang olehmu, soal sudah berapa banyak waktu yang ku buang untuk mencintaimu disaat aku tidak ingin lagi menghitungnya? Pertanyaan terakhirmu sungguh menggelitik, aku tidak ingin menjawabnya. Janjiku yang mana yang baru aku tepati setelah mendapat tagihan darimu? Sudahlah, nikmati saja ketiadaanku. Ini keputusanmu.
“Saat ini mungkin tidak. Tapi nanti, tentang seringnya aku memelukmu; dulu, akan dengan tiba-tiba menghantuimu. Dan kerinduanmu terhadapku, bermula dari situ.”
Gelisah
Tolong berhenti membuat saya gelisah karena terlalu lama memendam rindu yang saya punya, yang tentunya tak kaurasakan.
Selasa, 09 Oktober 2012
kamu selalu mengajariku mengais ngais masa lalu, memaksaku untuk menyentuh kenangan,terdampar dalam bayang bayang yang kau burak secara sengaja, seakan sosokmu nyata menjelma menjadi pahlwan kesiangan yang merusak kebahagiaan. dalam kenangan kau seret aku kenangan, menuju masa yang harusnya ku lupkan hingga kau kelelahan, hingga aku sadar bahwa aku sedang di permainkan, inikah caraku menyakitiku, inikah caramu mencabik cabik perasaanku, apa dengan tangisku itu berati bahagia bagimu? apa dengan menolehkan luka dihatiku berarti kemenangan bagimu? siapa aku di matamu? apakah boneka kecilmu ini dilarang untuk bahagia? apakah wayang yang sedang kau mainkan ini dilarang untuk mencari kebebasan? mengapa kau selalu memperlakukan aku seperti mainan? kapan kau ajari aku kebebasan? ajari aku caranya melupakan,meniadakan segala kecemasan, meniadakan segala kenangan nyalanya derai air mataku di sebabkan olehmu, ajari aku caranya melupakan, sehingga aku lupa caranya menangis, sehingga aku lupa caranya merana, karna aku selalu mengenal air mata. aku hanya ingin tertawa, sehingga hatiku mati rasa akan luka :) -Virda Mega Andani- ☺ ♥
Senin, 08 Oktober 2012
Langganan:
Komentar (Atom)