tidak semua yang saya tulis adalah apa yang saya rasakan

Rabu, 10 Oktober 2012

“Ketika kau terlelap, itu adalah waktu yang tepat untuk memberi ciumanku yang telat.”
Tempatmu berbaring sekarang adalah sebuah Dipan yang ‘ku buat dengan susah payah dengan berbahan papan yang ‘ku ambil dari pohon besar bernama Rindu. Kau terlarut dalam lamunan ditidurmu, semilir angin yang tiada lain adalah aku, mendendangkan hasrat berselera ketika helai demi helai rambutmu ‘ku belai mesra.
Jauh diluar lamunanku, aku memikirkan cara untuk bagaimana kita bisa bersatu. Karena tiap detik yang berjumlah satu, aku terhisap dan tersapu dari hanya dua sampai tida detik yang ‘ku punya oleh hembusan nafasmu. Tidak hanya itu, aku hanyalah sebuah partikel kecil dari bagian tubuh dan hidupmu yang sungguh tak kuasa menyelimutimu dari aku yang dingin atas perintah Sang Dirgantara untuk melakukannya. Dilema ‘ku rasa. Satu tahun berlalu tidak terasa dengan sebongkah asa yang hilang entah kemana.
“Kepada setiap detik yang berjumlah satu, aku bertanya, soal sudah berapa banyak Ia yang ‘ku buang untuk mencintaimu.”
Padamu, Nona. Cintaku ini seperti pelana kuda; yang sesaat turun ketika Ia tak ‘ku jaga, dan seketika naik saat aku telah pandai mengejanya. C.I.N.T.A. Jika belati biru itu tak mampu menusuk rongga dimana seharusnya cintaku berada disana, akan ku asah sebilah rindu yang tersimpan dalam bejana yang tiada lain adalah batinku. Akan ‘ku hujam kau dengan syahdu. Akan ‘ku rajam kau dengan rindu. Sebab tanpamu, hati ini memilu; seperti palu yang layu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman